Articles

Serat Kelapa Pulau Sumbawa, Sarat Energi Baru Untuk Ekonomi Sirkular dan Green Jobs

Sabut kelapa di pesisir Pulau Sumbawa selama ini diperlakukan sebagai limbah, padahal menyimpan potensi sebagai material masa depan dalam ekonomi hijau. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, teknologi tepat guna, dan penguatan peran komunitas lokal, sabut kelapa berpeluang mendorong lahirnya green jobs inklusif di wilayah lahan kering. 👉 Baca selengkapnya untuk melihat bagaimana sabut kelapa dapat bertransformasi dari limbah pesisir menjadi penggerak ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon.

Sabut kelapa yang selama ini hanya jadi tumpukan limbah di pesisir kering Pulau Sumbawa, sesungguhnya menyimpan potensi besar sebagai future material, kunci bagi lahirnya ekonomi hijau, penciptaan green jobs, inovasi energi bersih, dan masa depan berkelanjutan dari lahan kering Indonesia.


Di tengah panas dan keringnya lanskap Pulau Sumbawa, sabut kelapa dianggap limbah tak bernilai, dibiarkan menumpuk, dibakar, atau hanyut bersama hujan. Padahal, wilayah pesisir ini dikenal dengan hamparan pohon kelapanya yang melimpah. Selama ini, aktivitas ekonomi pesisir di Pulau Sumbawa lebih berfokus pada daging buah kelapa, sementara sabutnya terabaikan, hanya sebagian kecil dimanfaatkan sebagai bahan bakar tradisional, sisanya menumpuk tanpa arah hingga menjadi penyumbat saluran air saat musim hujan. Ironisnya, menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pulau Sumbawa yang terdiri dari 5 kabupaten/kota (Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Sumbawa Barat) merupakan salah satu sentra kelapa di Nusa Tenggara Barat menyumbang 6.830ton sabut di tahun 2024, namun lebih dari 80 persen di antaranya terbuang tanpa pemanfaatan berarti. Di banyak tempat lain, serat yang sama justru telah berevolusi menjadi future material, bahan masa depan yang menopang industri hijau, energi terbarukan, dan penciptaan green jobs. Kondisi ini menandai peluang baru bagi Pulau Sumbawa untuk menulis bab berbeda, yaitu: dari limbah yang terabaikan menjadi penggerak green circular farming system, sistem yang mengubah aliran limbah menjadi aliran nilai, mempertemukan sains terapan dengan keadilan sosial, dan membuka jalan bagi ekonomi sirkular yang tumbuh dari tanah kering.


Menggali pustaka dan pengalaman dari dunia digital, sabut kelapa bukan hanya tentang ekonomi sirkular atau efisiensi produksi, tetapi tentang masa depan green jobs yang berkeadilan, sehingga berkaca dari beberapa daerah di Indonesia yang sudah menjalankan micro-hub, pesisir Pulau Sumbawa berpotensi membuka lapangan kerja hijau baru, mulai dari teknisi lokal, pengrajin, hingga operator digital pemasaran produk ramah lingkungan. Namun lebih dari itu, green jobs perlu dipahami bukan sekadar “pekerjaan hijau”, melainkan sistem kerja yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan ekologis. Kebijakan pengembangan sabut kelapa berkelanjutan dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kesetaraan gender dan inklusi sosial di daerah kering. Perempuan pun memiliki peran strategis dalam proses pengeringan, penyortiran, dan pengemasan produk turunan sabut, sementara pemuda dan penyandang disabilitas dapat difasilitasi untuk berperan dalam aspek teknologi dan logistik. Inilah esensi green economy yang inklusif, memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki ruang partisipasi dan manfaat ekonomi yang setara.


Pengembangan sabut kelapa berkelanjutan sejalan dengan kerangka Green Jobs Framework dari International Labour Organization (ILO, 2023) yang menekankan penciptaan pekerjaan hijau berbasis inovasi lokal dan prinsip keadilan sosial, serta Rencana Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (RPRK) atau Low Carbon Carbon Development Initiative (LCDI) menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 yang menempatkan ekonomi sirkular dan energi bersih sebagai strategi utama transisi menuju pembangunan berketahanan iklim. Dengan menjadikan sabut kelapa sebagai bahan baku strategis dalam ekonomi hijau daerah, Pulau Sumbawa dapat berkontribusi langsung pada target nasional pengurangan emisi dan perluasan lapangan kerja hijau yang inklusif. Dengan ekosistem kebijakan yang mendukung dan kesadaran kolektif masyarakat yang terus tumbuh, Pulau Sumbawa dapat menjadi contoh nyata bagaimana bahan sederhana seperti sabut kelapa menjadi katalis perubahan, menciptakan pekerjaan hijau, menumbuhkan kesetaraan sosial, dan memperkuat posisi NTB sebagai pionir ekonomi sirkular di kawasan timur Indonesia.


Transformasi sabut kelapa dari limbah menjadi produk bernilai tambah dapat membuka kesempatan nyata bagi petani di pesisir Pulau Sumbawa. Melalui mekanisme pengembangan micro hub desa, jika dikelola oleh koperasi petani dan pemuda lokal, sabut kelapa berpotensi diubah menjadi cocopeat (media tanam organik), cocofiber (serat industri untuk tali dan matras), cocopot, hingga biochar (amendemen tanah). Model seperti ini telah terbukti berhasil di beberapa wilayah, misalnya di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan sekitarnya, petani maupun pedagang kelapa tak lagi hanya menjual bahan mentah, mereka menjadi produsen bahan jadi, sehingga memotong rantai pasok tradisional. Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, di mana program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan sabut kelapa dilakukan secara terstruktur melalui tujuh tahapan, mulai dari persiapan, penilaian kebutuhan, perencanaan program, pelaksanaan, hingga evaluasi dan terminasi (Nabilurrohman, 2024). Pemberdayaan ini didukung oleh ketersediaan sumber daya lokal, partisipasi aktif masyarakat, dan budaya yang mendukung kegiatan ekonomi kreatif, sehingga para pengrajin sabut kelapa mampu mengoptimalkan potensi alam desa untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Pulau Sumbawa, dengan potensi kelapa yang melimpah dan tenaga muda yang kreatif, berpeluang meniru model serupa untuk menulis bab baru: dari limbah menjadi aset, dari penerima subsidi menjadi wirausaha hijau.


Mewujudkan potensi-potensi yang ada, Pulau Sumbawa dapat belajar dari praktik baik di daerah lain yang telah lebih dahulu berhasil mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan ekonomi sirkular. Model ekonomi sirkular dalam pengolahan sabut kelapa dapat menjadi inspirasi penting bagi wilayah pesisir kering di Pulau Sumbawa. Seperti Desa Langgongsari, Kabupaten Banyumas, membuktikan bahwa sistem ekonomi tidak harus linear (ambil–pakai–buang). Melalui pendekatan koperasi desa, peralatan produksi dikelola secara grant-to-lease sehingga dapat digunakan bersama tanpa menimbulkan beban hutang besar. Keuntungan usaha dikembalikan untuk memperluas kapasitas produksi dan memperkuat modal sosial masyarakat. Contoh nyata lainnya, di mana hasil pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan sabut kelapa kini menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Produk turunan seperti cocopeat dan cocofiber yang diolah oleh koperasi dan UMKM lokal tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi telah berhasil menembus pasar internasional. Pada November 2025, PT Migunani Bersama Internasional, salah satu UMKM binaan Bea Cukai Purwokerto, melaksanakan ekspor perdana cocopeat ke Taiwan sebanyak satu kontainer berukuran 40 feet (sekitar 16 ton). Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi berbasis desa mampu bersaing di tingkat global serta membuka jalan bagi peningkatan ekonomi lokal yang berkelanjutan (Bea Cukai Purwokerto, 2025). Jika model serupa diadaptasi di Pulau Sumbawa, bukan mustahil sabut kelapa yang selama ini terbuang dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi, sekaligus menghindarkan pelepasan emisi karbon monoksida (CO) dan partikulat (PM₂.₅) yang melampaui ambang WHO (Obeng et al., 2020), merupakan langkah nyata menuju ekonomi rendah karbon dan penciptaan green jobs di lahan kering.

Pertanian lahan kering sering dipersepsikan sebagai sektor dengan keterbatasan, padahal justru di ruang inilah inovasi kontekstual dapat tumbuh. Di Pulau Sumbawa, model micro hub pengolahan sabut kelapa berpeluang besar untuk dikembangkan dengan pendekatan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kapasitas lokal. Teknologi yang diterapkan tidak harus berbiaya tinggi; cukup adaptif terhadap sumber daya yang tersedia. Misalnya, sensor kelembapan sederhana berbasis IoT yang dirakit oleh teknisi lokal untuk memantau kadar air cocopeat, pengering surya hibrida dari bahan lokal yang memanfaatkan energi matahari melimpah di pesisir kering, atau pemanfaatan bioenergi dari fermentasi sabut untuk membantu pengoperasian mesin press dan pompa air skala kecil. Dengan dukungan riset terapan dari perguruan tinggi dan balai penelitian, pengembangan biopestisida alami berbasis sabut kelapa juga dapat menjadi langkah inovatif menuju pertanian ramah lingkungan. Jika strategi ini diimplementasikan secara bertahap, Pulau Sumbawa dapat menjadi laboratorium hidup bagi penerapan appropriate technology, membuktikan bahwa desa-desa kering pun mampu menjadi pusat lahirnya green jobs dan ekonomi sirkular di kawasan timur Indonesia.


Meskipun memiliki potensi besar sebagai sumber daya berkelanjutan, material masa depan berbasis sabut kelapa seperti cocopeat, cocofiber, dan biochar memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan. Variabilitas kualitas bahan baku, yang dipengaruhi oleh varietas kelapa, kondisi panen, dan metode pengolahan, dapat menghasilkan sifat fisik dan mekanik produk akhir yang tidak konsisten. Selain itu, kekuatan dan daya tahan material ini sering kali lebih rendah dibandingkan bahan sintetis konvensional, sehingga membatasi penggunaannya dalam beberapa konteks industri. Tantangan dalam skala produksi, standarisasi kualitas, dan rantai pasok yang efisien juga menjadi kendala dalam adopsi massal. Walaupun ramah lingkungan, beberapa teknik pengolahan tetap membutuhkan energi atau bahan kimia tertentu yang dapat mengurangi manfaat ekologisnya secara bersih. Selain itu, biaya produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan material konvensional dapat menjadi hambatan pasar tanpa dukungan kebijakan atau insentif. Di sisi lain, penciptaan green jobs yang berbasis sabut kelapa belum sepenuhnya hijau dalam praktiknya, karena beberapa pekerjaan masih mengandalkan proses manual atau energi konvensional. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi urgensi dan nilai strategisnya, justru mendorong percepatan transisi menuju green jobs yang lebih ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan. Keterbatasan-keterbatasan ini menekankan perlunya penelitian lanjutan, optimalisasi teknologi, dan dukungan kebijakan strategis agar potensi sabut kelapa sebagai future material dan katalis penciptaan green jobs dapat direalisasikan secara maksimal.


Sebagai kesimpulan, pengembangan sabut kelapa di Pulau Sumbawa menunjukkan bahwa transformasi limbah pertanian menjadi future materials dan green jobs bukan sekadar inovasi teknis, tetapi strategi holistik yang mengintegrasikan ekonomi sirkular, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan sosial. Meskipun terdapat tantangan terkait kualitas bahan baku, kekuatan material, skala produksi, dan sebagian pekerjaan belum sepenuhnya ramah lingkungan, potensi untuk menciptakan lapangan kerja hijau yang inklusif, memberdayakan perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas tetap besar. Diharapkan dengan dukungan kebijakan lokal dan nasional, mekanisme micro-hub berbasis koperasi, serta riset terapan yang berkelanjutan, Pulau Sumbawa dapat menjadi laboratorium hidup bagi penerapan green economy di lahan kering, sekaligus memperkuat kontribusi daerah terhadap target nasional pengurangan emisi dan pembangunan berketahanan iklim. Inilah bukti nyata bahwa bahan sederhana seperti sabut kelapa dapat menjadi katalis perubahan sosial-ekologis sekaligus ekonomi yang berkelanjutan.


Sabut kelapa di Pulau Sumbawa bisa menjadi future material dan katalis green jobs inklusif; dengan dukungan kebijakan dan inovasi lokal, limbah sederhana ini berpeluang mengubah desa pesisir menjadi laboratorium nyata pembangunan rendah karbon dan ekonomi berkelanjutan.


Penulis: Pervitara Arum Dewi, Pengawas Mutu Hasil Pertanian, Dinas Pertanian Kota Bima


Daftar Pustaka


  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. (2025). Produksi perkebunan menurut kabupaten/kota dan jenis tanaman di Provinsi Nusa Tenggara Barat (ribu ton), 2024. Mataram: Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  2. Bea Cukai Purwokerto. (2025). PT Migunani Bersama Internasional berhasil ekspor perdana 16 ton cocopeat ke Taiwan. https://www.beacukai.go.id/berita/pt-migunani-bersama-internasional-berhasil-ekspor-perdana-16-ton-cocopeat-ke-taiwan.html, diakses pada 13 November 2025 pukul 20.35 WITA.
  3. Nabilurrohman, M. (2024). Pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sabut kelapa di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas [Skripsi, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto]. UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Repository.
  4. Obeng, G. Y., Amoah, D. Y., Opoku, R., Sekyere, C. K. K., Adjei, E. A., & Mensah, E. (2020). Coconut wastes as bioresource for sustainable energy: Quantifying wastes, calorific values and emissions in Ghana. Energies, 13(9), 2178. https://doi.org/10.3390/en13092178