Articles

Digitalisasi Hijau (Green Digital Economy): Pilar Ekonomi Berkelanjutan di Era Net-Zero Emission

Digitalisasi semakin melekat dalam kehidupan modern, tetapi di sisi lain turut membawa tantangan lingkungan seperti konsumsi energi tinggi dan limbah elektronik. Konsep digitalisasi hijau hadir sebagai pendekatan yang menggabungkan inovasi teknologi dengan prinsip keberlanjutan, sekaligus membuka peluang ekonomi dan pekerjaan hijau di berbagai sektor. 👉 Baca selengkapnya untuk melihat bagaimana digitalisasi hijau menjadi strategi penting di tengah transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

Digitalisasi telah menjadi denyut nadi peradaban modern. Hampir setiap aspek kehidupan sekarang bergantung pada teknologi digital: mulai dari komunikasi, transportasi, perdagangan, hingga pendidikan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan besar: apakah transformasi digital ini benar-benar mendukung kelestarian lingkungan, atau benar-benar menambah beban bumi? Pusat data global, misalnya, mengkonsumsi energi dalam jumlah besar, sementara limbah elektronik terus menumpuk. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, konsep Green Digitalisasi Hijau hadir sebagai paradigma baru. Ini menggabungkan inovasi teknologi dengan prinsip ramah lingkungan untuk menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan.


Urgensi dan Manfaat Digitalisasi Hijau

Fakta menunjukkan bahwa pusat data global menyumbang hampir 1% dari total konsumsi listrik dunia, dan angka ini terus meningkat seiring dengan pertumbuhan internet dan layanan digital. Tanpa strategi hijau, digitalisasi berpotensi memperburuk krisis energi dan iklim. Oleh karena itu, pendekatan ekonomi digital hijau relevan dan mendesak untuk diterapkan. Selain itu, tren global menuju net-zero emission 2050 mengharuskan setiap sektor, termasuk digital, untuk bertransformasi.


1.Definisi dan Prinsip Digitalisasi Hijau. Digitalisasi hijau adalah penerapan teknologi digital untuk mendukung ekonomi yang berkelanjutan. Prinsip utamanya meliputi:


  1. Efisiensi energi: penggunaan teknologi untuk mengurangi konsumsi energi.
  2. Ekonomi sirkular digital: memanfaatkan platform digital untuk mendukung daur ulang dan pengurangan limbah.
  3. Transparansi data: blockchain dan big data untuk memantau jejak karbon perusahaan.


2.Aspek Ekonomi adalah digitalisasi hijau membuka peluang kerja baru yang disbut pekerjaan hijau. Contoh:


  1. Analis Data Keberlanjutan: menganalisis data emisi dan dampak lingkungan.
  2. Spesialis Akuntansi Karbon: menghitung dan melaporkan jejak karbon perusahaan.
  3. Pengembang Aplikasi Hijau: membuat aplikasi untuk efisiensi energi atau pendidikan lingkungan.
  4. Perencana Kota Cerdas: merancang kota berdasarkan teknologi rendah emisi.


3.Sektor Utama Digitalisasi Hijau


  1. Transportasi: kendaraan listrik, sistem transportasi umum berbasis digital.
  2. Energi: jaringan pintar, pemantauan energi terbarukan.
  3. Industri kreatif: mode digital berkelanjutan, pasar produk ramah lingkungan.
  4. Keuangan: fintech hijau, investasi berbasis ESG.
  5. Pariwisata: platform digital untuk pariwisata berkelanjutan.


4.Tantangan Implementasi


  1. Biaya tinggi: investasi awal teknologi hijau masih mahal.
  2. Kesenjangan digital: akses ke teknologi tidak terdistribusi secara merata.
  3. Regulasi: tidak semua negara memiliki kebijakan untuk mendukung digitalisasi hijau.
  4. Kesadaran publik: literasi digital hijau masih rendah.


5.Solusi dan Prospek Masa Depan


  1. Kolaborasi lintas sektoral: pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat sipil.
  2. Inovasi teknologi: AI, IoT, blockchain untuk keberlanjutan.
  3. Pendidikan dan literasi digital hijau: membangun kesadaran generasi muda
  4. Insentif ekonomi: pajak hijau, subsidi energi terbarukan.


Beberapa negara telah mencoba menerapkan digitalisasi hijau. Studi kasus seperti negara Estonia, Singapura, dan Indonesia. Untuk negara Estonia; negara dengan sistem digital hijau terintegrasi. Kemudian negara Singapura kota pintar dengan efisiensi energi berbasis teknologi. Dan Indonesia telah memunculkan beberapa startup hijau di bidang fintech dan agri technology.


Dalam hal ini menurut penulis, digitalisasi hijau adalah jalan tengah yang harus diambil. Tanpa digitalisasi, dunia akan tertinggal; Tanpa hijau, dunia akan hancur. Oleh karena itu, integrasi keduanya bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.


Digitalisasi hijau bukan hanya jargon, tetapi strategi nyata untuk menyelamatkan bumi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Dengan mengintegrasikan teknologi dan keberlanjutan, kami tidak hanya membangun ekonomi yang kuat, tetapi juga masa depan yang layak huni.


Penulis: Alfian Hamdan Subhi


DAFTAR PUSTAKA


  1. International Labour Organization (ILO). (2018). World Employment and Social Outlook 2018: Greening with Jobs. Geneva: ILO.
  2. United Nations Environment Programme (UNEP). (2021). Green Economy and Digitalization: Pathways to Sustainable Development. Nairobi: UNEP.
  3. European Commission. (2020). Shaping Europe’s Digital Future. Brussels: European Union.
  4. World Bank. (2022). Digital Economy for Sustainable Growth. Washington, DC: World Bank Group.
  5. OECD. (2021). Digitalisation and the Green Transition. Paris: Organisation for Economic Co-operation and Development.
  6. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. (2023). Strategi Ekonomi Hijau Indonesia. Jakarta: Bappenas.
  7. Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum.
  8. United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
  9. International Energy Agency (IEA). (2022). Digitalization and Energy. Paris: IEA.
  10. Tapscott, D. (2016). Blockchain Revolution: How the Technology Behind Bitcoin is Changing Money, Business, and the World. New York: Penguin Random House.
  11. World Economic Forum. (2020). Harnessing Digitalization for Sustainable Development. Geneva: WEF.
  12. International Telecommunication Union (ITU). (2021). Digital Transformation for Green Growth. Geneva: ITU.