Articles
Perkembangan ekonomi hijau di Indonesia tidak hanya melahirkan pekerjaan teknis di sektor formal, tetapi juga membuka ruang baru melalui tumbuhnya green startup di berbagai bidang. Dari pengelolaan sampah berbasis platform, pertanian digital, hingga inovasi material bangunan dari limbah, pendekatan bisnis yang menggabungkan teknologi, ekonomi sirkular, dan solusi lingkungan mulai membentuk variasi baru green jobs yang lebih fleksibel dan kontekstual. 👉 Baca selengkapnya untuk melihat bagaimana green startup berkontribusi memperluas peluang kerja hijau di Indonesia.
Green jobs kini dianggap sebagai solusi yang menguntungkan dua hal sekaligus: membantu meredam tekanan lingkungan dan menyediakan peluang kerja baru sesuai dengan kebutuhan ekonomi modern. Di Indonesia, selain pekerjaan formal teknis seperti teknisi panel surya atau ahli pengelolaan limbah, munculnya green startup juga memberi variasi dalam bentuk kerja hijau—mulai dari platform B2B yang menghubungkan perusahaan dengan fasilitas pengolahan sampah, platform agritech yang memperpendek rantai pasok, hingga inovator bahan bangunan yang mengubah limbah industri menjadi bahan baku.
Berdasarkan kajian akademik dan laporan lembaga internasional, ekosistem ekonomi sirkular dan agritech mencatat kenaikan aktivitas startup yang memfokuskan diri pada solusi lingkungan; ini mengindikasikan bahwa peluang green jobs tidak hanya bertumpu pada sektor formal, tetapi juga pada usaha rintisan yang tumbuh dari gagasan teknis dan sosial (Pambudi, 2025; UNEP, 2019).
Green jobs, menurut International Labour Organization, adalah pekerjaan yang mengurangi dampak lingkungan sekaligus menawarkan pekerjaan yang layak dalam proses transisi menuju ekonomi rendah karbon (ILO, 2018). Di Indonesia, fenomena ini muncul dalam bentuk pekerjaan teknis seperti teknisi instalasi energi terbarukan, ahli efisiensi energi, dan spesialis pengelolaan limbah. Namun, green jobs kini juga semakin berkembang melalui startup yang menggabungkan model bisnis digital dan prinsip ekonomi sirkular. Dalam literatur bisnis, startup diartikan sebagai organisasi muda yang mencari model bisnis yang bisa berulang dan diperluas meskipun dalam kondisi tidak pasti (Ries, 2011; Paternoster et al., 2014). Ketika nilai inti startup diarahkan ke keberlanjutan, muncullah kategori green startup yang membantu memperluas lingkup green jobs.
Contoh nyatanya adalah startup B2B yang menghubungkan klien—seperti perusahaan, institusi, atau komunitas—dengan fasilitas pengelolaan sampah. Penelitian multi-kasus tentang pengelolaan sampah sirkular di Indonesia menunjukkan bahwa model bottom-up yang digunakan startup bisa meningkatkan pemulihan material dan efisiensi dalam pengelolaan limbah. Model ini melibatkan aktor lokal dan teknologi digital untuk melacak aliran sampah (Pambudi, 2025; Suryani, 2025). Platform semacam ini menyerap tenaga kerja baru di berbagai tingkatan, seperti operasional (pengumpul, pemilah), administratif (koordinator pengumpulan, quality control), serta edukasi (trainer komunitas). Dengan demikian, platform ini membuka banyak peluang kerja yang layak dan inklusif dalam ekosistem sirkular (UNEP, 2019).
Di bidang pertanian berkelanjutan, startup teknologi pertanian yang menghubungkan langsung para petani dengan konsumen melalui aplikasi menunjukkan potensi besar sebagai startup hijau. Penelitian tentang pengembangan usaha digital di sektor pertanian Indonesia menekankan peran startup pertanian dalam meningkatkan akses pasar, layanan kredit kecil, dan pembagian teknologi ke petani kecil (Aziz, 2024; Fiocco et al., 2023). Selain bertugas memasarkan produk, banyak platform pertanian juga memberikan pelatihan, seperti cara membuat kompos organik, memakai pupuk organik, dan praktik hidroponik rumahan. Hal ini memperkuat kemampuan masyarakat lokal dalam menerapkan praktik hijau sekaligus menciptakan lapangan kerja baru seperti pelatih, teknisi, dan manajer rantai pasok.
Di bidang industri ramah lingkungan, peluang usaha startup muncul dalam bentuk unit produksi bahan bangunan sirkular, layanan konsultasi teknis untuk mengganti bahan bangunan, serta model B2B yang menyediakan bahan alternatif untuk proyek konstruksi kecil dan menengah. Penelitian di bidang teknik sipil dan material bangunan menunjukkan beberapa percobaan menggunakan abu batubara (fly ash) dan abu tulang sebagai pengganti sebagian semen atau agregat pada bata dan beton. Penelitian oleh Malhotra (1999) dan Mehta (2002) menyatakan bahwa fly ash bisa berfungsi sebagai bahan pozzolanic yang meningkatkan kualitas dan kekuatan beton jika diberi proporsi yang tepat. Penelitian oleh Oliveira et al. (2013) menunjukkan bahwa abu tulang yang dikalsinasi dapat digunakan sebagai pengganti sebagian semen karena kandungan kalsium fosfatnya, sehingga disarankan untuk dipakai pada bata ringan dan mortir. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa produk bangunan dari limbah bisa memenuhi standar mekanik tertentu dengan komposisi dan proses yang benar, sehingga membuka peluang bisnis startup yang menghasilkan bahan ramah lingkungan. Dengan adanya bukti ilmiah tentang kemungkinan teknis fly ash atau abu tulang sebagai pengganti sebagian semen, pengembangan startup di bidang ini memiliki potensi untuk menyerap tenaga kerja teknis, perawatan pabrik kecil, dan pemasar yang paham nilai lingkungan produk (Singh & Siddique, 2016).
Secara bersamaan, ketiga contoh kategori startup tersebut—platform B2B pengelolaan sampah, pertanian digital yang menghubungkan petani dengan konsumen dan memberi pelatihan, serta startup material bangunan dari limbah—menunjukkan cara green startup menjadi sumber lapangan kerja yang fleksibel dan disesuaikan dengan situasi. Selain menciptakan pekerjaan langsung, mereka juga meningkatkan kebutuhan akan keterampilan baru seperti pengelolaan rantai pasok digital, pengujian kualitas material sirkular, serta fasilitator pendidikan lingkungan. Bukti dari penelitian lapangan dan eksperimen material bangunan memperkuat argumen bahwa inovasi ini bukan hanya peluang bisnis, tetapi jalan nyata untuk memperluas dampak ekonomi hijau di tingkat lokal (Pambudi, 2025; FAO, 2022; UNEP, 2019).
Untuk mempercepat potensi ini, beberapa langkah nyata disarankan dalam literatur: memperkuat kerja sama antara penelitian dan industri agar hasil penelitian tentang bahan dan teknologi bisa diuji serta dijual lebih cepat; menyediakan pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar untuk meningkatkan keterampilan hijau; serta menyiapkan insentif kebijakan yang mendukung penggunaan bahan daur ulang dan platform pengelolaan sampah yang terverifikasi (ILO, 2020; World Bank, 2022). Ketika ketiga hal—pengetahuan ilmiah, semangat wirausaha, dan dukungan kebijakan—berjalan bersama, startup hijau akan lebih mudah berkembang, menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan memperoleh kualitas kerja yang lebih baik.
Peluang green jobs tidak hanya tumbuh pada sektor formal, tetapi juga pada usaha rintisan yang lahir dari gagasan teknis dan sosial seperti startup.
Penulis: Firda Fardina